Senin, 26 Maret 2012

Menjunjung Nurani Ditengah Minimnya Perhatian Pendidikan Inklusi


HAMPIR di setiap ruangan kelas SD Negeri 131 Kota Jambi terlihat beberapa perempuan yang usianya bukan lagi usia anak SD. Mereka semuanya sudah dewasa dan tidak tepat jika disebut lagi siswa. Namun, perempuan-perempuan ini mengikuti kegiatan belajar mengajar semua mata pelajaran yang diajarkan terhadap siswa  SD.
Pairah misalnya, seorang ibu yang saat itu mengikuti proses belajar di kelas I. mulai dari pagi hingga siang perempuan ini setia mengikuti materi yang diberikan guru, seperti siswa lainnya.Rutinitas ini dilakukannya setiap hari, mengikuti jadwal yang ditetapkan sekolah.
Tidak hanya Pairah, banyak puluhan ibu lain yang mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti yang dilakukannya. Keberadaan perempuan-perempuan ini sesungguhnya adalah ibu dari siswa dan sebagian shadow teacher yang melakukan pendampingan terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus. Seperti penyandang autis, tuna grahita dan beberapa penyandang cacat lainnya.

Meski statusnya bukan siswa, namun perempuan-perempuan itu memiliki tanggung jawab besar untuk belajar. Karena tugasnya tidak sekedar mendampingi anak belajar, tapi yang utama adalah bagaimana mentransfer lagi ilmu pengetahuan yang disampaikan guru kepada anak yang didampinginya.
 Mengikuti pendidikan di sekolah regular merupakan sesuatu yang tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Karena, komunitasnya sangat kecil dan sebagian besar adalah siswa normal yang tidak memiliki kelainan untuk mengikuti kegiatan belajar, dalam artian tidak perlu pendampingan.
SDN 131 Kota Jambi adalah salah satu sekolah penyelenggara inklusi yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus terbanyak di Kota Jambi. Ada 22 siswa luar biasa yang meretas asa di sana dan merajut cita-cita seperti siswa normal lainnya.
Penyebaran sekolah inklusi di Jambi, khususnya di Kota Jambi sendiri pada dasarnya kurang merata. Cukup banyak sekolah yang menolak, jika ada anak berkebutuhan khusus yang masuk di sekolah reguler, meskipun secara kemampuan otak sudah bisa mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah reguler.

Meski merasa kewalahan menerima banyaknya anak berkebutuhan khusus, namun hingga saat ini SDN 131 Kota Jambi tetap menerima siswa berkebutuhan khusus. “Bagaimana mau menolak, anak-anak ini juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti siswa lainnya. kemana lagi mereka harus mendapatkan pendidikan, jika banyak sekolah yang juga menolak?” kata Junaida, kepala SDN 131 Kota Jambi.
Ketika menghadapi kondisi seperti itu, dirinya lebih lebih menjunjug dan mengedepankan nurani, meski idealnya sekolahnya sudah cukup menerima anak bekebutuhan khusus.

Tidak hanya itu, perjuangan untuk melayani anak berkebutuhan khusus menurutnya membutuhkan keja keras yang ekstra, karena banyak kendala yang dihadapi. tidak hanya dari internal saja. Bahkan, pihaknya beberapa waktu lalu dirinya sempat diminta untuk membubarkan penyelenggaraan sekolah inklusi dari salah satu anggota DPRD. namun, hal tersebut menurutnya bukan solusi yang tepat. baginya, setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama.


Pihaknya selama ini juga kurang mendapatkan sosialisasi yang jelas dari pemerintah mengenai penyelenggaraan sekolah inklusi. bagaimana proses pembelajarannya, jumlah ideal siswa yang diterima, ataupun guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus. “Meski ada Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang penyelenggaraan sekolah inklusi. namun, hal itu tidak pernah disosialisasikan, sehingga kami terkadang serba salah,” katanya.

Rabu (14/3) lalu, saya berkesempatan melihat langsung bagaimana proses kegiatan belajar mengajar di SD 131 Kota Jambi. di dampingi penanggung jawab asosiasi sekolah inklusi, Zulkiram, Syaid Jafar pengawas dari Dinas Pendididikan Provinsi Jambi,  Sularto, Pengawas yang dulunya juga sebagai Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Dari luar tidak ada aktivitas yang berbeda dengan sekolah reguler lainnya. hanya ketika berada di dalam ruangan, setiap guru kelas harus menyampaikan materi pembelajaran, tidak hanya kepada siswa namun juga beberapa orang dewasa yang setiap harinya hadir disitu. Sebuah perjuangan yang tidak  mudah juga bagi anak-anak berkebutuhan untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler. tidak hanya dari segi materi pembelajaran saja, namun setiap siswa yang dianggap masih belum mandiri harus ada pendampingan dari orang tua maupun
shadow teacher. Pihak sekolah sendiri tidak menyediakan guru khusus untuk mendampingi anak bekebutuhan khusus. karena sekolah tidak memiliki anggaran untuk menggaji guru pendamping.

Bagi orang tua yang kurang mampu, terpaksa harus rela meluangkan waktu khusus untuk mendampingi putra-putrinya mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang luar biasa seperti siswa nomal lainnya.
Saya masih ingat, beberapa waktu lalu saya sempat bermain ke salah satu pusat terapis anak berkebutuhan khusus, seperti penyandang autis, ADD, ADHD dan lain sebagainya. Dari beberapa anak yang saya temui di sana ternyata memiliki potensi yang sangat luar biasa, dan sebagian besar anak yang terapis di tempat ini mengikuti sekolah reguler di SDN 131 Kota Jambi.
Hadist Saka Ramadhan penyandang autis, mampu menghafal 250 lagu Minang, Aldi penyandang autis piawai menyanyi dengan suaran yang bagus dan saat ini 400 an lagu sudah dihafal dan masih banyak anak-anak lain yang memiliki bakat luar biasa.
Kedepan mudah-mudahan perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus semakin besar, baik dari pemerintah, pelaku pendidikan dan masyarakat yang memiliki kepedulian memajukan pendidikan di Indonesia. Jangan lupa, mereka juga bagian dari kehidupan kita, mereka memiliki hak yang sama untuk hidup maupun  mendapatkan pendidikan.
Semoga …………….Amin!!!
                                    ***Salam//// Cak Kholis***