HAMPIR di setiap ruangan kelas SD Negeri 131 Kota Jambi
terlihat beberapa perempuan yang usianya bukan lagi usia anak SD. Mereka
semuanya sudah dewasa dan tidak tepat jika disebut lagi siswa. Namun, perempuan-perempuan
ini mengikuti kegiatan belajar mengajar semua mata pelajaran yang diajarkan
terhadap siswa SD.
Pairah misalnya, seorang ibu yang saat itu mengikuti proses belajar di kelas
I. mulai dari pagi hingga siang perempuan ini setia mengikuti materi yang
diberikan guru, seperti siswa lainnya.Rutinitas ini dilakukannya setiap hari,
mengikuti jadwal yang ditetapkan sekolah.
Tidak hanya Pairah, banyak puluhan ibu lain yang mengikuti kegiatan belajar
mengajar seperti yang dilakukannya. Keberadaan perempuan-perempuan ini
sesungguhnya adalah ibu dari siswa dan sebagian shadow teacher yang melakukan pendampingan terhadap anak yang
memiliki kebutuhan khusus. Seperti penyandang autis, tuna grahita dan beberapa
penyandang cacat lainnya.
Meski statusnya bukan siswa, namun perempuan-perempuan itu memiliki tanggung jawab besar untuk belajar. Karena tugasnya tidak sekedar mendampingi anak belajar, tapi yang utama adalah bagaimana mentransfer lagi ilmu pengetahuan yang disampaikan guru kepada anak yang didampinginya.
Meski statusnya bukan siswa, namun perempuan-perempuan itu memiliki tanggung jawab besar untuk belajar. Karena tugasnya tidak sekedar mendampingi anak belajar, tapi yang utama adalah bagaimana mentransfer lagi ilmu pengetahuan yang disampaikan guru kepada anak yang didampinginya.
Mengikuti pendidikan di sekolah
regular merupakan sesuatu yang tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus.
Karena, komunitasnya sangat kecil dan sebagian besar adalah siswa normal yang
tidak memiliki kelainan untuk mengikuti kegiatan belajar, dalam artian tidak
perlu pendampingan.
SDN 131 Kota Jambi adalah salah satu sekolah penyelenggara inklusi yang
memiliki peserta didik berkebutuhan khusus terbanyak di Kota Jambi. Ada 22
siswa luar biasa yang meretas asa di sana dan merajut cita-cita seperti siswa
normal lainnya.
Penyebaran sekolah inklusi di Jambi, khususnya di Kota Jambi sendiri pada
dasarnya kurang merata. Cukup banyak sekolah yang menolak, jika ada anak
berkebutuhan khusus yang masuk di sekolah reguler, meskipun secara kemampuan otak
sudah bisa mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah reguler.
Meski merasa kewalahan menerima banyaknya anak berkebutuhan khusus, namun hingga saat ini SDN 131 Kota Jambi tetap menerima siswa berkebutuhan khusus. “Bagaimana mau menolak, anak-anak ini juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti siswa lainnya. kemana lagi mereka harus mendapatkan pendidikan, jika banyak sekolah yang juga menolak?” kata Junaida, kepala SDN 131 Kota Jambi.
Meski merasa kewalahan menerima banyaknya anak berkebutuhan khusus, namun hingga saat ini SDN 131 Kota Jambi tetap menerima siswa berkebutuhan khusus. “Bagaimana mau menolak, anak-anak ini juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti siswa lainnya. kemana lagi mereka harus mendapatkan pendidikan, jika banyak sekolah yang juga menolak?” kata Junaida, kepala SDN 131 Kota Jambi.
Ketika menghadapi kondisi seperti itu, dirinya lebih lebih menjunjug dan
mengedepankan nurani, meski idealnya sekolahnya sudah cukup menerima anak
bekebutuhan khusus.
Tidak hanya itu, perjuangan untuk melayani anak berkebutuhan khusus menurutnya membutuhkan keja keras yang ekstra, karena banyak kendala yang dihadapi. tidak hanya dari internal saja. Bahkan, pihaknya beberapa waktu lalu dirinya sempat diminta untuk membubarkan penyelenggaraan sekolah inklusi dari salah satu anggota DPRD. namun, hal tersebut menurutnya bukan solusi yang tepat. baginya, setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama.
Pihaknya selama ini juga kurang mendapatkan sosialisasi yang jelas dari pemerintah mengenai penyelenggaraan sekolah inklusi. bagaimana proses pembelajarannya, jumlah ideal siswa yang diterima, ataupun guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus. “Meski ada Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang penyelenggaraan sekolah inklusi. namun, hal itu tidak pernah disosialisasikan, sehingga kami terkadang serba salah,” katanya.
Rabu (14/3) lalu, saya berkesempatan melihat langsung bagaimana proses kegiatan belajar mengajar di SD 131 Kota Jambi. di dampingi penanggung jawab asosiasi sekolah inklusi, Zulkiram, Syaid Jafar pengawas dari Dinas Pendididikan Provinsi Jambi, Sularto, Pengawas yang dulunya juga sebagai Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Dari luar tidak ada aktivitas yang berbeda dengan sekolah reguler lainnya. hanya ketika berada di dalam ruangan, setiap guru kelas harus menyampaikan materi pembelajaran, tidak hanya kepada siswa namun juga beberapa orang dewasa yang setiap harinya hadir disitu. Sebuah perjuangan yang tidak mudah juga bagi anak-anak berkebutuhan untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler. tidak hanya dari segi materi pembelajaran saja, namun setiap siswa yang dianggap masih belum mandiri harus ada pendampingan dari orang tua maupun shadow teacher. Pihak sekolah sendiri tidak menyediakan guru khusus untuk mendampingi anak bekebutuhan khusus. karena sekolah tidak memiliki anggaran untuk menggaji guru pendamping.
Bagi orang tua yang kurang mampu, terpaksa harus rela meluangkan waktu khusus untuk mendampingi putra-putrinya mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang luar biasa seperti siswa nomal lainnya.
Tidak hanya itu, perjuangan untuk melayani anak berkebutuhan khusus menurutnya membutuhkan keja keras yang ekstra, karena banyak kendala yang dihadapi. tidak hanya dari internal saja. Bahkan, pihaknya beberapa waktu lalu dirinya sempat diminta untuk membubarkan penyelenggaraan sekolah inklusi dari salah satu anggota DPRD. namun, hal tersebut menurutnya bukan solusi yang tepat. baginya, setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama.
Pihaknya selama ini juga kurang mendapatkan sosialisasi yang jelas dari pemerintah mengenai penyelenggaraan sekolah inklusi. bagaimana proses pembelajarannya, jumlah ideal siswa yang diterima, ataupun guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus. “Meski ada Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang penyelenggaraan sekolah inklusi. namun, hal itu tidak pernah disosialisasikan, sehingga kami terkadang serba salah,” katanya.
Rabu (14/3) lalu, saya berkesempatan melihat langsung bagaimana proses kegiatan belajar mengajar di SD 131 Kota Jambi. di dampingi penanggung jawab asosiasi sekolah inklusi, Zulkiram, Syaid Jafar pengawas dari Dinas Pendididikan Provinsi Jambi, Sularto, Pengawas yang dulunya juga sebagai Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Dari luar tidak ada aktivitas yang berbeda dengan sekolah reguler lainnya. hanya ketika berada di dalam ruangan, setiap guru kelas harus menyampaikan materi pembelajaran, tidak hanya kepada siswa namun juga beberapa orang dewasa yang setiap harinya hadir disitu. Sebuah perjuangan yang tidak mudah juga bagi anak-anak berkebutuhan untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler. tidak hanya dari segi materi pembelajaran saja, namun setiap siswa yang dianggap masih belum mandiri harus ada pendampingan dari orang tua maupun shadow teacher. Pihak sekolah sendiri tidak menyediakan guru khusus untuk mendampingi anak bekebutuhan khusus. karena sekolah tidak memiliki anggaran untuk menggaji guru pendamping.
Bagi orang tua yang kurang mampu, terpaksa harus rela meluangkan waktu khusus untuk mendampingi putra-putrinya mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang luar biasa seperti siswa nomal lainnya.
Saya masih ingat, beberapa waktu lalu saya sempat bermain ke salah satu
pusat terapis anak berkebutuhan khusus, seperti penyandang autis, ADD, ADHD dan
lain sebagainya. Dari beberapa anak yang saya temui di sana ternyata memiliki
potensi yang sangat luar biasa, dan sebagian besar anak yang terapis di tempat
ini mengikuti sekolah reguler di SDN 131 Kota Jambi.
Hadist Saka Ramadhan penyandang autis, mampu menghafal 250 lagu Minang, Aldi
penyandang autis piawai menyanyi dengan suaran yang bagus dan saat ini 400 an
lagu sudah dihafal dan masih banyak anak-anak lain yang memiliki bakat luar
biasa.
Kedepan mudah-mudahan perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus
semakin besar, baik dari pemerintah, pelaku pendidikan dan masyarakat yang
memiliki kepedulian memajukan pendidikan di Indonesia. Jangan lupa, mereka juga
bagian dari kehidupan kita, mereka memiliki hak yang sama untuk hidup
maupun mendapatkan pendidikan.
Semoga …………….Amin!!!
***Salam////
Cak Kholis***